Restu Lestari (Pengrajin Boneka dan Tas Panda)
Oleh: Angga Yudistira Permana
UKM ini berada di Jalan Sayati Hilir No. 325 RT 01 RW 08 Desa Sayati Bandung. Pemilik dari UKM ini adalah Bapak Elan Ruslandi. UKM ini merupakan industri kelas menengah yang menghasilkan boneka dan tas panda. UKM ini memperkejakan tujuh orang karyawan. Ruang produksinya memiliki luas sekitar 70 meter persegi. Jumlah boneka dan tas panda yang dihasilkan oleh UKM ini per minggunya rata-rata mencapai 300 buah.
Omzet yang diterima oleh UKM ini selama satu bulan sekitar 20-30 juta rupiah, dengan keuntungan bersih sekitar 5 juta rupiah per bulan. Daerah pemasaran boneka dan tas panda yang dihasilkan oleh UKM ini selain di pulau Jawa antara lain, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Sistem pemasarannya adalah pesan – produksi – kirim. Jadi jika tidak ada pesanan, tidak ada produksi. Hal inilah yang membuat produksi boneka dan tas panda kurang berkembang.
UKM ini pernah berjaya pada saat dimana film kartun Spongebob menjadi tontonan yang paling diminati oleh anak-anak. Banyak pesanan yang meminta boneka berdasarkan tokoh-tokoh dari film kartun tersebut. Namun, seiring dengan berjalannya waktu, film kartun Spongebob mulai kurang diminati lagi yang berakibat UKM ini menjadi lesu.
Namun, dengan hadirnya film animasi Ipin dan Upin, produksi boneka UKM ini mulai kembali menggeliat. Banyak pesanan yang datang dari berbagai daerah di Indonesia agar UKM ini memproduksi boneka Ipin dan Upin beserta kawan-kawannya.
Banyak permasalahan yang dialami oleh UKM ini. Permasalahan yang pertama adalah manajemen yang buruk. Hal tersebut bisa dilihat dari penuturan sang pemilik yang mengakui bahwa masih kurang fasih dalam hal pembukuan. Permasalahan yang kedua adalah cara produksi yang masih sederhana dengan sistem gunting – jahit – tempel asesoris. Hal tersebut mengakibatkan jumlah produksi boneka yang kurang maksimal sehingga kalah oleh produk-produk Cina, yang masuk setelah ACFTA, yang begitu banyak dan harganya pun sangat murah. Permasalahan yang ketiga adalah banyaknya dana bantuan hibah dari pemerintah yang hangus sebagian ditengah jalan. Permasalahn-permasalahan tersebut pada akhirnya membuat UKM ini menjadi sulit untuk berkembang dan bersaing dengan produk-produk yang datang dari luar negeri.
Selasa, 02 Maret 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

terus bagaimana solusi agar UKM itu bersaing dengan produk ACFTA??
BalasHapus