Bismillahirrahmanirrahiem
Reportase pelatihan hari ini disampaikan oleh saya, Roisah Nurul Jannah
Tepatnya hari jumat tanggal 7 Mei 2010 pukul 07.30 bertempat di gedung LPPM lantai 1, IBUPI mengawali sebuah pelatihan dengan pembukaan oleh Ibu Lelly sebagai Koordinator dari IBUPI sendiri. Kemudian beliau mempersilahakan kepada tamu sambutan yang telah hadir untuk menyampaikan sambutannya, diantaranya oleh Prof. Sumarto selaku pimpinan LPPM yang menaungi IBUPI, beliau menyampaikan betapa pentingya sebuah kedisiplinan dan keberanian mengambil resiko sebagai modal untuk jiwa-jiwa entrepreuner. Selanjutnya, sambutan yang kedua diberikan oleh Pak Ade sodikin selaku sekretaris dari LPPM yang menyampaikan bahwa hari ini Indonesia membutuhkan banyak entrepreneur yang bisa mengantarkan Indonesia pada sebuah persaingan yang lebih gobal. Kemudian, ibu Lelly mempersilahkan kepada Pak Ridwan sebagai salah satu Tim inti dalam IBUPI & pemberi materi dalam training ini, untuk menyampaikan beberapa hal terkait agenda Training motivasi & kewirausahaan yang diselenggarakan oleh IBUPI ini. Terakhir adalah sambutan yang diberikan oleh koordinator penyelenggara, yaitu ibu Farida Sarimaya yang menyampaikan rasa terimakasih dan kebahagiaannya atas terselenggaranya agenda ini. Dengan demikian, secara resmi, Training motivasi dan wirausaha Inkubator Bisnis UPI telah dibuka.
Sebuah pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Dalam konteks ini, hal tersebut juga berlaku dalam pelatihan ini. Masih banyak diantara peserta yang belum saling mengenal, maka dengan idenya yang selalu memukau, Pak Ridwan mengajak peserta training untuk saling memperkenalkan dirinya dengan sebuah simulasi korek api. Lamanya pembicaraan peserta yang tengah memperkenalkan diri ditentukan oleh nyala api yang dinyalakan oleh setiap peserta saat memperkenalkan diri dengan karakter uniknya masing-masing. Jelas, simulasi ini memberi hikmah bahwa setiap manusia memiliki strategi kecermatan menggunakan waktu & memperkenalkan diri dengan hal positif yang diakuinya sendiri dan dengan karakter itulah mereka mengenalkan dirinya kepada dunia.
Beberapa agenda selanjutnya, yang dilakukan pada hari kemarin adalah:
1. Kontrak belajar atau aturan kelas yang disepakati secara bersama dengan tujuan untuk mengadakan dan membiasakan peserta calon entrepreuner agar lebih disiplin & menghargai waktu..
2. Knowing me – knowing you dengan teori Johari Window. Sebuah cara mengenal dan memperkenalkan diri kepada orang lain denga konsep 4 lubang jendela. Dengan simulasi ini, peserta tidak hanya mampu mengenal diri menurut dirinnya sendiri, melainkan peserta mampu memahami dirinya atas panilaian orang lain
3. Karakteristik wirausaha. Dengan sebuah kuisioner atau angket KKP [karakter kewirausahaan pribadi], peserta dapat mengenal karakter wirausahanya masing-masing. Disampaikan bahwa kuisioner ini, nyaris selalu tepat 80%, sehingga dengan demikian setiap peserta mampu menganalisis apa saja karakter yang harus dipertahankan dan yang mana saja karakter yang harus diperbaiki sebagai seorang entrepreneur.
4. Dart game/ Risk game. Sebuah silmulasi kelompok yang menantang peserta dengan modal berjuta-juta. Simulasi ini sebagai latihan untuk menguji nyali calon enterprener. Tentang bahwa bagaimana seorang enterpreneur saling bertanggunjawab untuk mengatur dan memajukan perusahaan timnya, strategi perusahaan dalam persaingan dan tentu saja keberanian mengambil resiko.
5. Eksplorasi ide bisnis yang diawali dengan Brain storming. Secara berkelompok pula, dalam waktu 5 menit peserta diharuskan untuk mencari dan menemukan berbagai ide bisnis sesuai dengan gambar yang ditunjukan oleh trainer. Hal ini memperlihatkan bahwa setiap entrepreuner tidak mempunyai alasan untuk tidak menemukan ide untuk memulai berbisnis.
Training IBUPI pertama, hari jumat tanggal 7 Mei 2010 berakhir pukul 18.30 WIB,
Demikian reportase hari ini, selamat menikmati berbagai materi semoga bermanfaat dan bernilai positif. Terimakasih.
Senin, 10 Mei 2010
Sabtu, 08 Mei 2010
Pelatihan IBUPI LPPM UPI 07-12 Mei 2010
Reportase
Bandung, 9 Mei 2010
Reportase hari ini, Minggu 9 Mei 2010 akan disampaikan langsung oleh Lia Meliani.
Hari Sabtu tanggal 8 Mei 2010 merupakan hari kedua dari rangkaian penyelenggaraan pelatihan IBUPI LPPM yang akan berlangsung selama enam hari. Setelah sehari sebelumnya dilakukan pembukaan kegiatan secara simbolis yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi dari trainer melalui game ataupun simulasi yang menarik, maka pada hari kedua ini baik semangat peserta, trainer maupun materi yang diberikan tak kalah menariknya juga dibanding hari pertama kegiatan.
Kegiatan pada hari kedua ini diawali dengan pembacaan reportase acara hari sebelumnya dan reportase bisnis yang dibacakan oleh Teh Oi dan Kang Herman. Untuk memohon ridho Allah SWT dalam kelancaran acara, dilakukan doa bersama untuk mengawali kegiatan pelatihan.
Seperti sehari sebelumnya, selalu ada saja ide kreatif dari trainer untuk memulai kegiatan dengan game seru yang membakar semangat peserta di pagi hari. Game tersebut dinamakan tembok rubuh, dimana dalam game tersebut setiap peserta saling berhadapan dengan pasangannya masing-masing, kemudian saling menjatuhkan diri secara bergantian. Ketika yang satu menjatuhkan diri, maka yang lainnya harus siap menangkap tubuh pasangan kita. Pada saat kita akan menjatuhkan diri, kita harus yakin bahwa pasangan kita akan menangkap tubuh kita dengan baik. Begitupun sebaliknya. Game tersebut menunjukkan kepada kita bahwa dalam menjalani sebuah bisnis kita harus mampu membangun kepercayaan dengan mitra kerja caranya yaitu dengan terlebih dahulu mempercayai mereka, baru kemudian mereka akan mempercayai kita.
Selanjutnya trainer menjelaskan materi mengenai cara menemukan ide usaha yang sebenarnya sudah menumpuk di pikiran kita namun karena ide tersebut terlalu banyak, sehingga acapkali membuat kita tidak fokus dan sulit untuk memilih bisnis mana yang layak untuk dijalankan. Untuk menemukan ide-ide usaha digunakan suatu analisis ide atau micro screening, berupa sebuah tabel yang terdiri dari jenis ide usaha, variabel pengukur, skala skor, yang kemudian dijumlahkan. Layak atau tidaknya jenis ide usaha yang akan dijalankan tergantung dari jumlah keseluruhan variabel. Pada sesi ini, setiap peserta diminta untuk membuat micro screening untuk menganalisis ide-ide usaha yang ingin dijalankan.
Penjelasan berlanjut ke materi mengenai analisis SWOT (Strength, weakness, opportunity, and threats) yang merupakan analisis usaha dari segi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman usaha. Untuk memperdalam materi mengenai analisis SWOT ini, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok menganalisis suatu usaha yang akan atau sedang dijalankan berdasarkan keempat aspek tadi yang kemudian hasil analisisnya dipresentasikan.
Sebagai ice breaking, trainer kembali menghadirkan game ke tengah-tengah peserta. Lagi-lagi, game yang diberikan rupanya tidak hanya sekedar game, tapi memiliki makna di dalamnya. Kali ini trainer memberikan game dimana dalam game tersebut setiap peserta harus mencari parter untuk saling mengungkapkan cerita yang benar terjadi dan cerita yang direkayasa. Di sinilah kita dituntut untuk menebak mana cerita yang benar dan mana cerita yang direkayasa. Dalam bisnis pun seperti itu, kita harus bisa menilai orang yang akan menjadi mitra kerja kita, apakah orang itu baik atau tidak, jujur atau tidak dan sebagainya. Karena hal itu akan sangat menentukkan bagaimana perjalanan bisnis kita ke depannya.
Kemudian peserta diajak untuk melakukan simulasi bisnis. Dimana beberapa orang dari peserta menjadi penjual dan sebagian lainnya menjadi pembeli. Dalam simulasi tersebut saya menangkap beberapa hal yang penting bagi seorang penjual yang diposisikan sebagai pelaksana bisnis, diantaranya adalah sebelum memulai bisnis, kita harus melakukan suatu market research atau suatu pemantauan terhadap pasar. Selain itu, jika terjadi penurunan daya beli konsumen, maka penjual harus memasang strategi untuk menarik kembali konsumen agar tetap bisa menikmati produk usaha kita, caranya bisa dengan diskon atau marketing mix yang dipengaruhi juga oleh 4P (price, promotion, product, place).
Di akhir acara, trainer menghadiahkan peserta dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang mengasah kembali kemampuan matematika peserta. Sungguh unik, karena ada beberapa dari peserta yang kebingungan dalam mengisi soal, termasuk saya sendiri. Sementara itu, dijelaskan pula mengenai komponen-komponen yang terdapat dalam business plan. Namun karena keterbatasan waktu, maka pembahasan mengenai business plan hanya diberikan secara garis besarnya saja.
Bandung, 9 Mei 2010
Reportase hari ini, Minggu 9 Mei 2010 akan disampaikan langsung oleh Lia Meliani.
Hari Sabtu tanggal 8 Mei 2010 merupakan hari kedua dari rangkaian penyelenggaraan pelatihan IBUPI LPPM yang akan berlangsung selama enam hari. Setelah sehari sebelumnya dilakukan pembukaan kegiatan secara simbolis yang kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi dari trainer melalui game ataupun simulasi yang menarik, maka pada hari kedua ini baik semangat peserta, trainer maupun materi yang diberikan tak kalah menariknya juga dibanding hari pertama kegiatan.
Kegiatan pada hari kedua ini diawali dengan pembacaan reportase acara hari sebelumnya dan reportase bisnis yang dibacakan oleh Teh Oi dan Kang Herman. Untuk memohon ridho Allah SWT dalam kelancaran acara, dilakukan doa bersama untuk mengawali kegiatan pelatihan.
Seperti sehari sebelumnya, selalu ada saja ide kreatif dari trainer untuk memulai kegiatan dengan game seru yang membakar semangat peserta di pagi hari. Game tersebut dinamakan tembok rubuh, dimana dalam game tersebut setiap peserta saling berhadapan dengan pasangannya masing-masing, kemudian saling menjatuhkan diri secara bergantian. Ketika yang satu menjatuhkan diri, maka yang lainnya harus siap menangkap tubuh pasangan kita. Pada saat kita akan menjatuhkan diri, kita harus yakin bahwa pasangan kita akan menangkap tubuh kita dengan baik. Begitupun sebaliknya. Game tersebut menunjukkan kepada kita bahwa dalam menjalani sebuah bisnis kita harus mampu membangun kepercayaan dengan mitra kerja caranya yaitu dengan terlebih dahulu mempercayai mereka, baru kemudian mereka akan mempercayai kita.
Selanjutnya trainer menjelaskan materi mengenai cara menemukan ide usaha yang sebenarnya sudah menumpuk di pikiran kita namun karena ide tersebut terlalu banyak, sehingga acapkali membuat kita tidak fokus dan sulit untuk memilih bisnis mana yang layak untuk dijalankan. Untuk menemukan ide-ide usaha digunakan suatu analisis ide atau micro screening, berupa sebuah tabel yang terdiri dari jenis ide usaha, variabel pengukur, skala skor, yang kemudian dijumlahkan. Layak atau tidaknya jenis ide usaha yang akan dijalankan tergantung dari jumlah keseluruhan variabel. Pada sesi ini, setiap peserta diminta untuk membuat micro screening untuk menganalisis ide-ide usaha yang ingin dijalankan.
Penjelasan berlanjut ke materi mengenai analisis SWOT (Strength, weakness, opportunity, and threats) yang merupakan analisis usaha dari segi kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman usaha. Untuk memperdalam materi mengenai analisis SWOT ini, peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok, dimana setiap kelompok menganalisis suatu usaha yang akan atau sedang dijalankan berdasarkan keempat aspek tadi yang kemudian hasil analisisnya dipresentasikan.
Sebagai ice breaking, trainer kembali menghadirkan game ke tengah-tengah peserta. Lagi-lagi, game yang diberikan rupanya tidak hanya sekedar game, tapi memiliki makna di dalamnya. Kali ini trainer memberikan game dimana dalam game tersebut setiap peserta harus mencari parter untuk saling mengungkapkan cerita yang benar terjadi dan cerita yang direkayasa. Di sinilah kita dituntut untuk menebak mana cerita yang benar dan mana cerita yang direkayasa. Dalam bisnis pun seperti itu, kita harus bisa menilai orang yang akan menjadi mitra kerja kita, apakah orang itu baik atau tidak, jujur atau tidak dan sebagainya. Karena hal itu akan sangat menentukkan bagaimana perjalanan bisnis kita ke depannya.
Kemudian peserta diajak untuk melakukan simulasi bisnis. Dimana beberapa orang dari peserta menjadi penjual dan sebagian lainnya menjadi pembeli. Dalam simulasi tersebut saya menangkap beberapa hal yang penting bagi seorang penjual yang diposisikan sebagai pelaksana bisnis, diantaranya adalah sebelum memulai bisnis, kita harus melakukan suatu market research atau suatu pemantauan terhadap pasar. Selain itu, jika terjadi penurunan daya beli konsumen, maka penjual harus memasang strategi untuk menarik kembali konsumen agar tetap bisa menikmati produk usaha kita, caranya bisa dengan diskon atau marketing mix yang dipengaruhi juga oleh 4P (price, promotion, product, place).
Di akhir acara, trainer menghadiahkan peserta dengan sejumlah pertanyaan-pertanyaan yang mengasah kembali kemampuan matematika peserta. Sungguh unik, karena ada beberapa dari peserta yang kebingungan dalam mengisi soal, termasuk saya sendiri. Sementara itu, dijelaskan pula mengenai komponen-komponen yang terdapat dalam business plan. Namun karena keterbatasan waktu, maka pembahasan mengenai business plan hanya diberikan secara garis besarnya saja.
Langganan:
Komentar (Atom)
